Selasa, 06 Mei 2014


Cirebon, 7 Mei 2014
Sesaat Kau Tampak Nikmat, Racunku.

Pria Malang, ya mungkin itu sebutan yang pantas untukku dan kisahku sekarang.
Kebanyakan orang pasti beranggapan bahwa dunia itu indah selalu dipenuhi dengan warna, tapi tidak lagi untukku! Sejak kepergiannya tak ada lagi warna dalam kehidupanku, tak ada lagi warna dalam duniaku, semua terlihat sama, hitam, gelap.
Rasanya aku pun ingin ikut pergi dengannya. Namun, ia pergi meninggalkan cahaya yang harus aku warnai seorang diri. Ya, Peri kecilku, karenanya yang membuatku harus tetap tinggal di dunia ini, demi putriku aku harus tetap bertahan hidup meski dalam kegelapan.
***

Aku terdiam di tengah gelapnya malam, ku pandangi langit penuh dengan bintang-bintang yang bertaburan. Batinku berkata “Aku merindukanmu, Istriku”, air mata tak dapat ku tampung lagi hingga jatuh membasahi pipiku. Aku mulai gelisah, hati ini mulai tak tenang, dadaku pun terasa sesak, kalau sudah begini, hanya satu hal yang bisa membuatku tenang. Rokok. Ya, rokok kabarnya bisa membuat seseorang menjadi tenang. Entah benar atau tidak, yang jelas aku memang merasa lebih tenang jika menghisap batang putih penuh zat kimia itu.

"Ayah, ayah.." Terdengar suara peri kecilku memanggilku, aku pun segera menghapus air mata yang jatuh ke pipiku.
"Di sini rupanya kau ayah. Bintangnya baguus ya yah?" Putriku menghampiriku dan langsung duduk disampingku sambil menikmati indahnya bintang di langit.
"Hm.." Aku hanya menjawab seperlunya, aku sedang malas menanggapi kecerewetan putriku yang sudah mulai beranjak remaja. Entah malam ini pertanyaan apa lagi yang akan dikeluarkan olehnya.
"Tapi asap rokok ayah menghalangi keindahan bintang yang aku lihat."
Aku mengerti akan maksudnya, aku pun langsung menjauhi rokok yang aku pegang dari putriku.
Ayah, apakah ayah pernah memakan daging babi?"
"Tidak pernah."
"Mengapa?"
"Agama kita mengajarkan bahwa memakan babi itu haram hukumnya, dagingnya tidak baik untuk kesehatan jika kita memakannya."
"Lalu mengapa ayah merokok? Bukankah rokok juga haram dan tidak baik untuk kesehatan jika kita menghisapnya?"
Aku sangat tersentak dengan pertanyaannya kali ini, entah siapa yang sudah memberitahukannya. "Apa? Siapa yang memberi tahumu tentang itu?"
"Guruku, guruku bilang menghisap rokok itu haram dan berbahaya, apakah benar?"
"Ya, tapi tidak untuk ayah, tapi sangat berbahaya dan haram jika kau yang menghisapnya sayangku."
"Mengapa?"
"Kau masih terlalu kecil, umurmu baru beranjak sembilan tahun, lagian kau ini perempuan, tak pantas untuk menyentuhnya apalagi menghisapnya. Berbeda dengan ayah, ayah ini pria dewasa, jadi tidak akan apa - apa jika ayah merokok."
"Tapi guruku bilang, rokok berbahaya untuk semua orang. Bukankah itu juga termasuk untuk ayah?"
"Sudahlah, sudah larut malam lebih baik kau segera tidur." Aku tidak ingin memperdebatkan lagi persoalan rokok dengan putriku, maka aku menyuruhnya untuk tidur. Tapi perintahku tidak digubris olehnya, dia tetap saja mempersoalkannya yang membuatku semakin gerah.
"Yah, perlahan-lahan rokok akan menjadikanmu zombie lalu akan mematikanmu."
"Tidak akan."
"Lihat tubuhmu yah! Kau semakin kurus, wajahmu pucat dan semakin menua, kau tidak tampan lagi. Sepanjang malam aku selalu mendengarkan rintihanmu yang diikuti suara batuk-batuk ayah yang tak kunjung henti. Apakah itu bukan rokok penyebabnya?"
Aku semakin gerah dibuatnya, "Apakah kau tidak mendengar apa yang ayah katakan, segera tidurlah!"
"Ayah aku mohon berhentilah merokok, apakah ayah tidak menyayangiku?"
"Jangan menangis! Ayah sangat menyayangimu, tapi ayah tidak akan pernah berhenti merokok!" Emosiku sudah tak tertahankan lagi, aku tak ingin putriku terus-terusan mendapatkan bentakan dariku dan membuatnya semakin menangis. karenanya akupun langsung menyeretnya ke kamar, agar ia segera tidur dan berhenti untuk menanyakan persoalan yang membuat hatiku geram. Aku pikir setelah menyeretnya untuk tidur akan membuat hati dan pikiranku mereda, nampaknya aku salah aku menjadi merasa bersalah terhadap putriku. Sebenarnya apa yang dikatakan putriku itu memang benar, semakin hari aku terlihat seperti zombie, untuk bercermin pun rasanya enggan.
Belum lagi rasa sakit yang ada didalam tubuhku, terutama pada daerah paru-paru, rasanya sesak sekali tak tertahankan, terkadang jantungku terasa berdegup kencang, membuat tubuhku menjadi kaku dan lemas, sangat menyiksa. Tapi aku bisa apa? Aku sudah terlanjur menggilai racun yang selalu aku nikmati setiap jamnya. Hanya rokok yang mampu mengobati kegalauanku, kesedihanku, kegelisahanku, keprustasianku, dan keputusasaanku. Jadi sepertinya sangat sulit untukku meninggalkannya, meski putriku sendiri yang memintaku, meski harus hidup setengah mati.
***
"Amor.. Amor.. Masih dikamar kah nak?" Aku memanggil putriku lalu menghampiri kamarnya, sepanjang malam aku dibuat merasa bersalah olehnya. Pagi ini aku berencana untuk meminta maaf kepadanya dan mencoba untuk menjelaskan mengapa aku harus merokok. Tapi sepertinya putriku sedang tidak berada di kamarnya, tempat tidurnya sudah dibereskan dengan rapih namun hanya saja ia lupa menaruh alat sholat dan buku diarynya yang berserakan di atas lantai kamarnya. Sepertinya ia habis mengerjakan sholat setelah selesai menulis diary. Aku sering sekali melihat putriku menulis diary, entah apa yang telah dicurahkannya. Aku penasaran untuk membaca isinya, maka aku pun membacanya..

Senin, 5 Mei 2014
Diary, semalam aku sudah mengatakan kepada ayahku apa yang guruku beri tahu tentang bahayanya merokok kepadaku. Aku pun sudah mencoba menakuti ayah tentang bahayanya rokok, agar ayah berhenti untuk merokok, tapi sepertinya sia-sia.
Aku tau ayah banyak berbohong, terutama soal ia menyanyangiku. bagaimana bisa ia menyangiku sedangkan ia tidak menyayangi dirinya sendiri? Ayah menyakiti dirinya sendiri dengan terus menerus mengonsumsi rokok, ayah juga membiarkan aku sakit dengan terus-menerus membiarkan aku menghisap asap rokoknya. Apakah itu namanya sayang? Meskipun ayah tak menyayangiku, aku tetap sangat menyayangi ayah. Aku tau ayah juga sudah mulai merasakan sakit akibat merokok, sepanjang malam aku selalu mendengarkan rintihan kesakitannya. Aku tak ingin kehilangannya, aku takut, diairy.. Cukup ibu saja yang meninggalkan aku, jangan ayah. Di dunia ini hanya ayah yang aku punya.
Aku berjanji akan menolong ayah, bagaimana pun caranya. Barusan selesai sholay, aku meminta sesuatu kepada Allah, aku meminta agar Allah jangan marah dan mau mengampuni ketidaktahuan ayahku mengonsumsi barang haram. Yang kedua, aku meminta izin kepada Allah untuk menukarkan paru-paruku untuk ayah, agar ayah tidak merasakan sakit lagi. Ayah sudah mulai tua pasti tidak akan kuat menahan rasa sakit, sedangkan aku masih sangat muda dan sebentar lagi aku sudah bukan anak kecil lagi, tentu akan lebih kuat menahan rasa sakit yang ayah derita. Diary bantu aku membujuk Allah, agar Allah segera memaafkan ayah dan mengizinkanku.

Tanpa ku sadari, dua titik kristal bening telah menetes di pipi ku, aku bersimpuh dihadapan-Nya "Allahu Akbar, ampuni hambamu ini Ya Allah. Hamba sangat menyesal, putri hamba telah menyadarkan hamba bahwa rokok hanya memberi kenikmatan sesaat, selebihnya menghancurkan tubuh dan hidup hamba. Beri hamba waktu lebih lama lagi untuk memperbaiki dan tetap hidup bersama putriku Ya Allah." Air mataku terus berlinangan dengan derasnya. Penyesalan tinggalah penyesalan, rasanya aku ingin meraung sekuat hati. Entah hidupku tersisa untuk beberapa waktu lagi, yang jelas akan aku perbaiki sebelum semuanya semakin terlambat.
"Ayah? Sedang apa di kamarku? Mengapa ayah menangis?" Amor datang mengejutkanku, tanpa pikir panjang aku segera memeluknya dengan erat dan meminta maaf kepadanya.
"Simpan dan jaga paru-parumu nak, ayah akan berusaha menyembuhkan paru-paru ayah. Ayah janji mulai detik ini ayah akan berhenti merokok. Akan ayah buktikan kalau ayah tidak berbohong, ayah sangat menyayangimu." Amor pun tak sanggup menahan air matanya yang jatuh dan ia pun langsung membalas pelukanku dengan seerat-eratnya.

Selamat tinggal racun kenikmatan, Selamat datang kehidupan baru.

Cerita ini diikutsertakan dalam lomba menulis "Diary Sang Zombigaret"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar