Cirebon, 7 Mei 2014
Sesaat Kau Tampak Nikmat, Racunku.
Pria Malang, ya
mungkin itu sebutan
yang pantas untukku dan kisahku sekarang.
Kebanyakan orang pasti
beranggapan bahwa dunia itu indah selalu dipenuhi dengan warna,
tapi tidak lagi untukku!
Sejak kepergiannya tak
ada lagi warna dalam kehidupanku, tak ada lagi warna dalam duniaku, semua
terlihat sama, hitam, gelap.
Rasanya aku pun ingin ikut pergi dengannya. Namun, ia pergi
meninggalkan cahaya yang harus aku warnai seorang diri. Ya, Peri kecilku,
karenanya yang membuatku harus tetap tinggal di dunia ini, demi putriku aku
harus tetap bertahan hidup meski dalam kegelapan.
***
Aku terdiam di tengah gelapnya
malam, ku pandangi
langit penuh dengan bintang-bintang yang bertaburan. Batinku berkata “Aku merindukanmu, Istriku”, air
mata tak dapat ku tampung lagi hingga jatuh membasahi pipiku. Aku mulai
gelisah, hati ini mulai tak tenang, dadaku pun terasa sesak, kalau sudah
begini, hanya satu hal yang bisa membuatku tenang. Rokok. Ya, rokok kabarnya
bisa membuat seseorang menjadi tenang. Entah benar atau tidak, yang jelas aku
memang merasa lebih tenang jika menghisap batang putih penuh zat kimia itu.
"Ayah, ayah.." Terdengar suara peri kecilku
memanggilku, aku pun segera menghapus air mata yang jatuh ke pipiku.
"Di sini rupanya kau ayah. Bintangnya baguus ya
yah?" Putriku menghampiriku dan langsung duduk disampingku sambil
menikmati indahnya bintang di langit.
"Hm.." Aku hanya menjawab seperlunya, aku sedang
malas menanggapi kecerewetan putriku yang sudah mulai beranjak remaja. Entah
malam ini pertanyaan apa lagi yang akan dikeluarkan olehnya.
"Tapi asap rokok ayah menghalangi keindahan bintang yang
aku lihat."
Aku mengerti akan maksudnya, aku pun langsung menjauhi rokok
yang aku pegang dari putriku.
Ayah, apakah ayah pernah memakan daging babi?"
"Tidak pernah."
"Mengapa?"
"Agama kita mengajarkan bahwa memakan babi itu haram
hukumnya, dagingnya tidak baik untuk kesehatan jika kita memakannya."
"Lalu mengapa ayah merokok? Bukankah rokok juga haram
dan tidak baik untuk kesehatan jika kita menghisapnya?"
Aku sangat tersentak dengan pertanyaannya kali ini, entah
siapa yang sudah memberitahukannya. "Apa? Siapa yang memberi tahumu
tentang itu?"
"Guruku, guruku bilang menghisap rokok itu haram dan
berbahaya, apakah benar?"
"Ya, tapi tidak untuk ayah, tapi sangat berbahaya dan haram
jika kau yang menghisapnya sayangku."
"Mengapa?"
"Kau masih terlalu kecil, umurmu baru beranjak sembilan
tahun, lagian kau ini perempuan, tak pantas untuk menyentuhnya apalagi
menghisapnya. Berbeda dengan ayah, ayah ini pria dewasa, jadi tidak akan apa -
apa jika ayah merokok."
"Tapi guruku bilang, rokok berbahaya untuk semua orang.
Bukankah itu juga termasuk untuk ayah?"
"Sudahlah, sudah larut malam lebih baik kau segera
tidur." Aku tidak ingin memperdebatkan lagi persoalan rokok dengan
putriku, maka aku menyuruhnya untuk tidur. Tapi perintahku tidak digubris
olehnya, dia tetap saja mempersoalkannya yang membuatku semakin gerah.
"Yah, perlahan-lahan rokok akan menjadikanmu zombie lalu
akan mematikanmu."
"Tidak akan."
"Lihat tubuhmu yah! Kau semakin kurus, wajahmu pucat dan
semakin menua, kau tidak tampan lagi. Sepanjang malam aku selalu mendengarkan
rintihanmu yang diikuti suara batuk-batuk ayah yang tak kunjung henti. Apakah
itu bukan rokok penyebabnya?"
Aku semakin gerah dibuatnya, "Apakah kau tidak mendengar
apa yang ayah katakan, segera tidurlah!"
"Ayah aku mohon berhentilah merokok, apakah ayah tidak
menyayangiku?"
"Jangan menangis! Ayah sangat menyayangimu, tapi ayah
tidak akan pernah berhenti merokok!" Emosiku sudah tak tertahankan lagi,
aku tak ingin putriku terus-terusan mendapatkan bentakan dariku dan membuatnya
semakin menangis. karenanya akupun langsung menyeretnya ke kamar, agar ia
segera tidur dan berhenti untuk menanyakan persoalan yang membuat hatiku geram.
Aku pikir setelah menyeretnya untuk tidur akan membuat hati dan pikiranku
mereda, nampaknya aku salah aku menjadi merasa bersalah terhadap putriku.
Sebenarnya apa yang dikatakan putriku itu memang benar, semakin hari aku
terlihat seperti zombie, untuk bercermin pun rasanya enggan.
Belum lagi rasa sakit yang ada didalam tubuhku, terutama pada
daerah paru-paru, rasanya sesak sekali tak tertahankan, terkadang jantungku terasa berdegup
kencang, membuat tubuhku menjadi kaku dan lemas, sangat menyiksa. Tapi aku bisa apa? Aku sudah
terlanjur menggilai racun yang selalu aku nikmati setiap jamnya. Hanya rokok
yang mampu mengobati kegalauanku, kesedihanku, kegelisahanku, keprustasianku,
dan keputusasaanku. Jadi sepertinya sangat sulit untukku meninggalkannya, meski
putriku sendiri yang memintaku, meski harus hidup setengah mati.
***
"Amor.. Amor.. Masih dikamar kah nak?" Aku
memanggil putriku lalu menghampiri kamarnya, sepanjang malam aku dibuat merasa
bersalah olehnya. Pagi ini aku berencana untuk meminta maaf kepadanya dan
mencoba untuk menjelaskan mengapa aku harus merokok. Tapi sepertinya putriku
sedang tidak berada di kamarnya, tempat tidurnya sudah dibereskan dengan rapih
namun hanya saja ia lupa menaruh alat sholat dan buku diarynya yang berserakan
di atas lantai kamarnya. Sepertinya ia habis mengerjakan sholat setelah selesai
menulis diary. Aku sering sekali melihat putriku menulis diary, entah apa yang
telah dicurahkannya. Aku penasaran untuk membaca isinya, maka aku pun
membacanya..
Senin, 5 Mei 2014
Diary, semalam aku sudah mengatakan kepada ayahku apa yang guruku beri
tahu tentang bahayanya merokok kepadaku. Aku pun sudah mencoba menakuti ayah
tentang bahayanya rokok, agar ayah berhenti untuk merokok, tapi sepertinya
sia-sia.
Aku tau ayah banyak berbohong,
terutama soal ia menyanyangiku. bagaimana bisa ia menyangiku sedangkan ia tidak
menyayangi dirinya sendiri? Ayah menyakiti dirinya sendiri dengan terus menerus
mengonsumsi rokok, ayah juga membiarkan aku sakit dengan terus-menerus
membiarkan aku menghisap asap rokoknya. Apakah itu namanya sayang? Meskipun
ayah tak menyayangiku, aku tetap sangat menyayangi ayah. Aku tau ayah juga
sudah mulai merasakan sakit akibat merokok, sepanjang malam aku selalu
mendengarkan rintihan kesakitannya. Aku tak ingin kehilangannya, aku takut,
diairy.. Cukup ibu saja yang meninggalkan aku, jangan ayah. Di dunia ini hanya
ayah yang aku punya.
Aku berjanji akan menolong ayah,
bagaimana pun caranya. Barusan selesai sholay, aku meminta sesuatu kepada
Allah, aku meminta agar Allah jangan marah dan mau mengampuni ketidaktahuan
ayahku mengonsumsi barang haram. Yang kedua, aku meminta izin kepada Allah
untuk menukarkan paru-paruku untuk ayah, agar ayah tidak merasakan sakit lagi.
Ayah sudah mulai tua pasti tidak akan kuat menahan rasa sakit, sedangkan aku
masih sangat muda dan sebentar lagi aku sudah bukan anak kecil lagi, tentu akan
lebih kuat menahan rasa sakit yang ayah derita. Diary bantu aku membujuk Allah,
agar Allah segera memaafkan ayah dan mengizinkanku.
Tanpa ku sadari, dua titik kristal
bening telah menetes di pipi ku, aku bersimpuh dihadapan-Nya "Allahu Akbar, ampuni hambamu ini Ya
Allah. Hamba sangat menyesal, putri hamba telah menyadarkan hamba bahwa rokok hanya memberi kenikmatan sesaat, selebihnya menghancurkan
tubuh dan hidup hamba. Beri hamba waktu lebih lama lagi untuk memperbaiki dan
tetap hidup bersama putriku Ya Allah." Air mataku terus berlinangan dengan derasnya. Penyesalan tinggalah penyesalan, rasanya aku ingin meraung sekuat hati. Entah hidupku tersisa untuk beberapa waktu lagi, yang jelas akan aku perbaiki sebelum semuanya semakin terlambat.
"Ayah?
Sedang apa di kamarku? Mengapa ayah menangis?" Amor datang mengejutkanku,
tanpa pikir panjang aku segera memeluknya dengan erat dan meminta maaf
kepadanya.
"Simpan dan jaga paru-parumu nak, ayah akan berusaha menyembuhkan paru-paru ayah. Ayah janji
mulai detik ini ayah akan berhenti merokok. Akan ayah buktikan kalau ayah tidak
berbohong, ayah sangat menyayangimu." Amor pun tak sanggup menahan air
matanya yang jatuh dan ia pun langsung membalas pelukanku dengan
seerat-eratnya.
Selamat tinggal racun kenikmatan,
Selamat datang kehidupan baru.
Cerita ini diikutsertakan dalam lomba menulis "Diary Sang Zombigaret"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar